Jumat, 08 April 2011

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam pembelajaran matematika sebenarnya telah banyak upaya yang dilakukan oleh guru kelas untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Namun usaha itu belum menunjukan hasil yang optimal. Rentang nilai siswa yang pandai dengan siswa yang kurang pandai terlalu mencolok. Untuk itu perlu diupayakan pula agar rentang nilai antar siswa tersebut tidak terlalu jauh yaitu dengan memanfaatkan siswa yang pandai untuk menularkan kemampuannya pada siswa lain yang kemampuannya lebih rendah. Tentu saja guru yang menjadi perancang model pembelajaran harus mengubah bentuk pembelajaran yang lain.
Pembelajaran tersebut adalah pembelajaran tutor sebaya.Sisi lain yang menjadikan matematika dianggap siswa pelajaran yang sulit adalah bahasa yang digunakan oleh guru. Dalam hal tertentu siswa lebih paham dengan bahasa teman sebayanya daripada bahasa guru.

Kemudian Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara penyelesaian. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan keterampilan memahami masalah.

Dari latar belakang yang telah disebutkan di atas maka penulis tertarik untuk membahas model dari pembelajaran matematika yaitu tentang “Tutor Sebaya dan Problem Solving”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka rumusan permasalahannya adalah:

1. Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran tutor sebaya?

2. Bagaimana prosedur/langkah-langkah pelaksanaan tutor sebaya

3. Apa keunggulan dan kelemahan dari model pembelajaran tutor sebaya ?

4. Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran problem solving?

5. Apakah hakikat masalah dalam problem solving?

6. Bagaimanakah langkah-langkah pelaksanaan problem solving?

7. Apa keunggulan dan kelemahan dari model pembelajaran problem solving?.

C. Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui maksud dari model pembelajaran tutor sebaya

2. Untuk mengetahui prosedur/langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran tutor sebaya

3. Untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan model pembelajaran tutor sebaya

4. Untuk mengetahui maksud dari model pembelajaran problem solving

5. Untuk mengetahui hakikat masalah dalam problem solving

6. Untuk mengetahui langkah-langkah pelaksanaan dari model pembelajaran problem solving

7. Untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan dari model pembelajaran problem solving.

BAB II

MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA

A. PENGAJARAN TEMAN SEBAYA

Untuk meningkatkan keberhasilan suatu program pengajaran di sekolah tidak hanya disebabkan oleh satu macam faktor saja, tetapi dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor yang dapat menunjang keberhasilan. Begitu juga dengan sumber belajar, sumber belajar bukan hanya guru. Orang lain yang bukan guru juga dapat dijadikan sebagai sumber belajar, seperti teman sekelas, teman dari kelas yang lebih tinggi atau keluarga di rumah.

Sumber belajar yang bukan guru dan berasal dari orang yang lebih pandai disebut tutor. Tutor dibagi pula menjadi dua macam, yaitu tutor sebaya dan tutor kakak. Tutor sebaya adalah teman sebaya yang lebih pandai, dan tutor kakak adalah tutor dari kelas yang lebih tinggi. Ada beberapa pendapat mengenai tutor sebaya, diantaraya adalah:

Dedi Supriyadi (1985, h. 36) mengemukakan bahwa:

“Tutor sebaya adalah seorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Tutor tersebut diambil dari kelompok yang prestasinya lebih tinggi”.

Ischak dan Warji (1987, h.44) mengemukakan bahwa:

“Tutor sebaya adalah kelompok siswa yang telah tuntas terhadap bahan pelajaran, memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami bahan pelajaran yang dipelajarinya”.

Sedangkan Conny Semiawan, dkk. (1987, h.70) mengemukakan bahwa tutor sebaya itu adalah: “siswa yang pandai dapat memberikan bantuan belajar kepada siswa yang kurang pandai. Bantuan tersebut dapat dilakukan kepada teman-teman sekelasnya di luar sekolah”.

Jadi secara umum tutor sebaya ialah sumber belajar selain guru, yaitu teman sebaya yang lebih pandai yang memberikan bantuan belajar kepada teman-teman sekelasnya di sekolah.

Prosedur penyelenggaraan tutor sebaya1

a. Oval: muridStudent to tutor








Oval: murid





Oval: murid



Oval: tutorrrrrrrror[1]








Oval: murid


b. Group to tutor




c. Oval: muridStudent to student




Tutor Sebaya dikenal dengan pembelajaran teman Sebaya atau antar peserta didik, hal ini bisa terjadi ketika peserta didik yang lebih mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan kemudian membantu peserta didik lain yang kurang mampu. Metode ini banyak sekali manfaatnya baik dari sisi siswa yang berperan sebagai tutor maupun bagi siswa yang diajarkan. Peran guru adalah mengawasi kelancaran pelaksanaan metode ini dengan memberi pengarahan dan lain-lain.

Tutor Sebaya merupakan salah satu strategi pembelajaran untuk membantu memenuhi kebutuhan peserta didik. Ini merupakan pendekatan kooperatif bukan kompetitif. Rasa saling menghargai dan mengerti dibina di antara peserta didik yang bekerja bersama.[2]

Tutor Sebaya akan merasa bangga atas perannya dan juga belajar dari pengalamannya. Hal ini membantu memperkuat apa yang telah dipelajari dan diperolehnya atas tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Ketika mereka belajar dengan “Tutor Sebaya”, peserta didik juga mengembangkan kemampuan yang lebih baik untuk mendengarkan, berkonsentrasi, dan memahami apa yang dipelajari dengan cara yang bermakna. Penjelasan Tutor Sebaya kepada temannya lebih memungkinkan berhasil dibandingkan guru. Peserta didik melihat masalah dengan cara yang berbeda dibandingkan orang dewasa dan mereka menggunakan bahasa yang lebih akrab.

Bantuan belajar oleh teman sebaya yang lebih pandai dapat menghilangkan kecanggungan dan bahasa teman sebaya lebih mudah dipahami. Dengan teman sebaya tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu, dan sebagainya untuk bertanya atau meminta bantuan.[3]

Dalam penggunaan metode pembelajaran tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan, seperti halnya tutor sebaya. Uraian di atas adalah beberapa kelebihan dari metode tutor sebaya sementara kekurangan metode ini antara lain:

1. Tidak semua siswa dapat menjelaskan kepada temannya.

2. Tidak semua siswa dapat menjawab pertanyaan temannya.[4]

Menurut Hisyam Zaini (2001:1) (dalam Amin Suyitno, 2004:34) maka langkah-langkah pelaksanaan metode tutor sebaya adalah sebagai berikut:

1. Pilih materi yang memungkinkan materi tersebut dapat dipelajari siswa secara mandiri. Materi pengajaran dibagi dalam sub-sub materi (segmen materi). Misalnya siswa diberi soal latihan tentukan KPK dan FPB dari pasangan bilangan 24 dan 18, maka segmen materi yang diberikan adalah sebagai berikut. Kelipatan dari 24 adalah : 24, 48,…,…,(diisi oleh siswa) , Kelipatan dari 18 adalah : 18, 36,…,…,(diisi oleh siswa). Faktor dari 24 adalah : …,…,…,(diisi oleh siswa). Faktor dari 18 adalah : …,…,…,(diisi oleh siswa)

2. Bagilah para siswa menjadi kelompok-kelompok kecil yang heterogen, sebanyak sub-sub materi yang akan disampaikan guru. Siswa-siswa pandai disebar dalam setiap kelompok dan bertindak sebagai tutor sebaya.

3. Masing-masing kelompok diberi tugas mempelajari satu sub materi. Setiap kelompok dibantu oleh siswa yang pandai sebagai tutor sebaya.

4. Beri mereka waktu yang cukup untuk persiapan, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

5. Setiap kelompok melalui wakilnya menyampaikan sub materi sesuai dengan tugas yang telah diberikan. Guru bertindak sebagai nara sumber utama.

6. Setelah semua kelompok menyampaikan tugasnya secara barurutan sesuai dengan urutan sub materi, beri kesimpulan dan klarifikasi seandainya ada pemahaman siswa yang perlu diluruskan.

Dari uraian tersebut di atas selanjutnya dapat dikembangkan dalam bentuk soal yang lain untuk dijadikan bahan pembelajaran dalamkelompokkelompok kecil. Dengan demikian oleh model pembelajaran ini dalam diri siswa akan tertanam kebiasaan saling membantu antar teman sebaya.[5]

B. PROBLEM SOLVING

1. Konsep Dasar SPBM atau Problem Solving

Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM) atau yang dikenal dengan istilah Problem Solving adalah suatu cara mengajar dengan mengahadapkan siswa kepada suatu masalah agar dipecahkan atau diselesaikan. Metode ini menuntut kemampuan untuk melihat sebab akibat, mengobservasi problem, mencari hubungan antara berbagai data yang terkumpul kemudian menarik kesimpulan yang merupakan hasil pemecahan masalah.

Untuk mengaplikasikan SPBM, guru perlu memilih bahan pelajaran yang memiliki permasalahan yang dapat dipecahkan. Guru bisa mengambil permasalahan tersebut dari buku teks atau dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar, dari peristiwa keluarga atau peristiwa kemasyarakatan.

Adapun strategi pembelajaran dengan pemecahan masalah dapat diterapkan:

1. Manakala guru menginginkan agar siswa tidak hanya sekedar dapat mengingat materi pelajaran, akan tetapi menguasai dan memahaminya secara penuh.

2. Apabila guru bermaksud untuk mengembangkan keterampilan berpikir rasional siswa, yaitu kemampuan menganalisis situasi, menerapkan pengetahuan yang mereka miliki dalam situasi baru, mengenal adanya perbedaan antara fakta dan pendapat.

3. Manakala guru menginginkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah serta membuat tantangan intelektual siswa.

4. Jika guru ingin mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajarnya.

5. Jika guru ingin agar siswa memahami hubungan antara apa yang dipelajari dengan kenyataan dalam kehidupannya (hubungan antara teori dengan kenyataan).[6]

2. Hakikat Masalah dalam SPBM

Antara strategi pembelajaran inkuiri (SPI) dan strategi pembelajaran berbasis masalah (SPBM) menmiliki perbedaan. Perbedaan tersebut terletak pada jenis serta tujuan yang ingin dicapai. Masalah dala SPI adalah masalah yang bersifat tertutup. Artinya, jawaban dari masalah itu sudah pasti, oleh sebab itu jawaban dari masalah yang dikaji itu sebenarnya guru sudah mengetahui dan memahamiya, namun guru tidak secara lansung menyampaikannya kepada siswa . Tugas guru menggiring siswa melalui proses tanya jawab kepada jawaban yang sebenarnya sudah pasti. Tujuan yang ingin dicapai oleh SPI menumbuhkan keyakinan dalam diri siswa tentang jawaban dari suatu masalah.

Berbeda dengan SPI, masalah dalam SPBM adalah masalah yang bersifat terbuka. Artinya jawaban dari masalah tersebut belum pasti. Setiap siswa, bahkan guru, dapat mengembangkan kemungkinan jawaban. Dengan demikian, SPBM memberikan kesempatan pada siswa untuk bereksplorasi mengumpulkan dan menganalisis data secara lengkap untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Tujuan yang ingin dicapai oleh SPBM adalah kemampuan siswa untuk berpikir kritis, analitis, sistematis, dan logis untuk menemukan alternatif pemecahan masalah melalui eksplorasi data secara empiris dalam rangka menumbuhkan sikap ilmiah.

Hakikat masalah dalam SPBM adalah gap atau kesenjangan antara situasi nyata dan kondisi yang diharapkan, atau antara kenyataan yang terjadi dengan apa yang diharapkan. [7]

Problem yang dihadapkan kepada murid harus mengandung kesulitan baik yang bersifat psikis atau fisik. Maksudnya persoalan itu memerlukan otak/otot untuk dapat memecahkannya. Problem atau masalah yang dihadapkan kepada siswa itu hendaknya:

1. Jelas, bersih dari kesalahan dan tidak memiliki dua pengertian yang berbeda.

2. Sesuai dengan kemampuan anak, tidak terlalu mudah dan juga tidak terlalu sulit sehingga tidak bisa dipecahkan oleh para siswa.

3. Menarik minat anak.

4. Sesuai dengan pelajaran anak diwaktu yang lalu, sekarang maupun dimasa mendatang.

5. Praktis dalam arti mungkin dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.[8]

3. Tahapan-tahapan SPBM

Seorang ahli pendidikan berkebangsaan Amerika menjelaskan 6 langkah SPBM yang kemudian dia namakan metode pemecahan masalah (problem solving), yaitu:

a. Merumuskan masalah, yaitu langkah siswa menentukan masalah yang akan dipecahkan.

b. Menganalisis masalah, yaitu langkah siswa meninjau masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang.

c. Merumuskan hipotesis, yaitu langkah siswa merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.

d. Mengumpulkan data, yaitu langkah siswa mencari dan menggambarkan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah.

e. Pengujian hipotesis, yaitu langkah siswa mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan.

f. Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah, yaitu langkah siswa menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.

Sesuai dengan tujuan SPBM adalah untuk menumbuhkan sikap ilmiah, dari beberapa bentuk SPBM yang dikemukakan oleh para ahli maka secara umum SPBM bisa dilkukan degan langkah-langkah:

a. Menyadari Masalah

Implementasinya SPBM harus dimulai dengan kesadaran adanya masalah yang harus dipecahkan. Pada tahapan ini guru membimbing siswa pada kesadaran adanya masalah yang harus dipecahkan. Pada tahapan ini guru membimbing siswa pada kesadaran adanya kesenjangan atau gap yang dirasakan oleh manusia atau lingkungan sosial. Kemampuan yang harus dicapai oleh siswa pada tahapan ini adalah siswa dapat menentukan atau menangkap kesenjangan yang terjadi dari berbagai fenomena yang ada.

b. Merumuskan Masalah

Rumusan masalah sangat penting, sebab selanjutnya berhubungan dengan kejelasan dan kesamaan persepsi tentang masalah dan berkatian dengan data-data apa yang harus dikumpulkan untuk menyelesaikannya. Kemampuan yang diharapkan dari siswa dalam tahap ini adalah siswa dapat menentukan prioritas masalah. Siswa dapat memanfaatkan pengetahuannya untuk menguji, memerinci, dan menganalisis masalah sehingga pada akhirnya muncul rumusan masalah yang jelas, spesifik, dan dapat dipecahkan.

c. Merumuskan Hipotesis

Kemampuan yang diharapkan dari siswa dalam tahap ini adalah siswa dapat menentukan sebab akibat dari masalah yang ingin diselesaikan, yang pada akhirnya siswa dapat menentukan berbagai kemungkinan dari penyelesaian masalah tersebut.

d. Mengumpulkan Data

Menentukan cara penyelesaian masalah sesuai dengan hipotesis yang diajukan harus sesuai dengan data yang ada. Oleh karena itu pada tahapan ini siswa didorong untuk mengumpulkan data yang relevan. Mengumpulkan dan memilah data, kemudian memetakan dan menyajikan dalam berbagai tampilan sehingga mudah dipahami.

e. Menguji Hipotesis

Berdasarkan data yang diterima dan ditolak siswa dapat menentukan hipotesis mana yang diterima dan hipotesis mana yang ditolak. Kemampuan siswa yang diharapkan dalam tahapan ini adalah kecakapan menelaah data dan sekaligus membahasnya untuk melihat hubungannya dengan masalah yang dikaji.

f. Menentukan Pilihan Penyelesaian

Ini merupakan tahap terakhir dari proses SPBM. Kemampuan yang diharapkan dari tahapan ini adalah kecakapan memilih alternatif penyelesaian yang memungkinkan dapat dilakukan serta dapat memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi sehubungan dengan alternatif yang dipilihnya.[9]

4. Keunggulan dan Kelemahan SPBM

a. Keunggulan

Sebagai suatu strategi pembelajaran, SPBM memiliki beberapa keunggulan, diantaranya:

1) Pemecahan masalah (problem solving) merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.

2) Pemecahan masalah (problem solving) dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.

3) Pemecahan masalah (problem solving) dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.

4) Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.

5) Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.

6) Melalui pemecahan masalah (problem solving) bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran (matematika, IPA, sejarah, dan lain-lain), pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekadar belajar dari guru atau dari buku-buku saja.

7) Pemecahan masalah (problem solving) dianggap lebih menyenangkan dan disukai oleh siswa.

8) Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis.

9) Pemecahan masalah (problem solving) dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.

10) Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.

b. Kelemahan

Di samping keunggunlan, SPBM juga memiliki kelemahan, di caranya:

1) Manakala siswa tidak memiliki minat atau kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.

2) Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.

3) Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.[10]

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Secara umum tutor sebaya ialah sumber belajar selain guru, yaitu teman sebaya yang lebih pandai yang memberikan bantuan belajar kepada teman-teman sekelasnya di sekolah.

2. Prosedur penyelenggaraan tutor sebaya ada 3 macam:

a) Student to tutor

b) Group to tutor

c) Student to student

3. Problem Solving adalah suatu cara mengajar dengan mengahadapkan siswa kepada suatu masalah agar dipecahkan atau diselesaikan.

4. Hakikat masalah dalam SPBM adalah gap atau kesenjangan antara situasi nyata dan kondisi yang diharapkan, atau antara kenyataan yang terjadi dengan apa yang diharapkan.

5. Secara umum SPBM bisa dilkukan degan langkah-langkah:

a) Menyadari masalah

b) Merumuskan masalah

c) Merumuskan hipotesis

d) Menguji hipotesis

e) Menentukan pilihan penyelesaian.

6. Keunggulan dan kelemahan SPBM (problem solving)

a. Keunggulan

1) Problem solving merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.

2) Problem solving dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.

3) Problem solving dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.

4) Problem solving dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.

5) Problem solving dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.

6) Problem solving bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran,pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekadar belajar dari guru atau dari buku-buku saja.

7) Problem solving dianggap lebih menyenangkan dan disukai oleh siswa.

8) Problem solving dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis.

9) Problem solving dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.

10) Problem solving dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan Di samping keunggunlan, SPBM juga memiliki kelemahan, di caranya:

11) Manakala siswa tidak memiliki minat atau kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan formal telah berakhir.

b. Kelemahan

1) Manakala siswa tidak memiliki minat atau kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.

2) Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.

3) Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.

B. Saran

Demikianlah makalah ini penulis sampaikan. Mudah-mudahan dapat menambah pengetahuan pembaca tentang model pembelajaran matematika yaitu tentang tutor sebaya dan problem solving. Namun penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk perbaikan dimasa yang akan datang.



[1] Tim MKPBM,Srategi Pembelajaran Matematika Kontemporer,(2001,Bandung;JICA.Universitas Pendidikan Indonesia) hal 233

[2] http://dossuwanda.wordpress.com/2008/03/11/penggunaan-metode-tutor-sebaya-contoh-proposal-ptk/

[3]Tim MKPBM Op.cit

[4]http/dossuwanda.Op.cit

[5] http://baliteacher.blogspot.com/2010/02/pembelajaran-dengan-methode-tutor-teman.html

[6] Wina Sanjana,Strategi Pembelajaran Berorientasi standar dan Proses Pendidikan,(2006,Bandung,Prenda Media Grup) hal 215

[7] ibid

[8] Suriyono,Teknik Belajar Mengajar dalam CBSA,(1992,Jakarta, PT. Rineka Cipta), hal 87

[9] sanjana, wina Op.cit

[10] ibid

Selasa, 05 April 2011

KATA-KATA MUTIARA SIKAP

SIKAP

Semakin lama saya hidup, semakin saya sadar
Akan pengaruh sikap dalam kehidupan

Sikap lebih penting daripada ilmu,
daripada uang, daripada kesempatan,
daripada kegagalan, daripada keberhasilan,
daripada apapun yang mungkin dikatakan
atau dilakukan seseorang.

Sikap lebih penting
daripada penampilan, karunia, atau keahlian.
Hal yang paling menakjubkan adalah
Kita memiliki pilihan untuk menghasilkan
sikap yang kita miliki pada hari itu.

Kita tidak dapat mengubah masa lalu
Kita tidak dapat mengubah tingkah laku orang
Kita tidak dapat mengubah apa yang pasti terjadi

Satu hal yang dapat kita ubah
adalah satu hal yang dapat kita kontrol,
dan itu adalah sikap kita.

Saya semakin yakin bahwa hidup adalah
10 persen dari apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita,
dan 90 persen adalah bagaimana sikap kita menghadapinya.

Akhirnya: Seluruh pilihan terletak di tangan Anda, tidak ada JIKA atau TETAPI. Andalah pengemudinya. Andalah yang menentukan JALAN HIDUP ANDA…

Jumat, 01 April 2011

pengembangan kurikulum

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kurikulum adalah suatu hal yang esensial dalam suatu penyelenggaraan pendidikan. Secara sederhana, kurikulum dapat dimengerti sebagai suatu kumpulan atau daftar pelajaran yang akan diajarkan kepada peserta didik komplit dengan cara pemberian nilai pencapaian belajar di kurun waktu tertentu. Kurikulum harus mampu mengakomodasi kebutuhan peserta didik yang berbeda secara individual, baik ditinjau dari segi waktu maupun kemampuan belajar. Oleh karena itu, merumuskan suatu kurikulum sudah barang tentu bukan perkara gampang. Banyak faktor yang menentukan dalam proses lahirnya sebuah kurikulum.

Dalam merancang kurikulum biasanya dibentuk suatu tim kerja khusus yang dapat berupa lembaga resmi, misalnya seperti Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional. Pusat Kurikulum sampai saat ini sebagai satu-satunya lembaga resmi bermandat menelurkan kurikulum bagi sekolah penyelenggara pendidikan nasional Indonesia. Tercatat sudah ada 7 kurikulum; kurikulum pertama tahun 1964, kurikulum 1976, kurikulum 1984, kurikulum 1994, Kurikulum edisi revisi 1999 dan yang terbaru kurikulum 2004, yang dilanjut dengan lahirnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006. Masing-masing kurikulum memiliki warna dan ciri khas tersendiri. Warna dan ciri khas tiap kurikulum menunjukkan kurikulum berusaha menghadirkan sosok peserta didik yang paling pas dengan zamannya.

Berdasarkan hal tersebut diatas penulis mencoba untuk membahas karakteristik dari beberapa kurikulum yang disebutkan diatas, diantaranya karakteristik dari kurikulum 1994, kurikulum 2004 atau disebut dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), dan kurikulum tahun 2006 yang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

B. RUMUSAN MASALAH

Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam penulisan makalah ini adalah:

1. Apa yang dimaksud dengan kurikulum ?

2. Apa yang dimaksud dengan kurikulum tahun 1994, kurikulum tahun 2004 (KBK), dan kurikulum tahun 2006 (KTSP)

3. Apa saja karakteristik dari masing-masing kurikulum 1994, KBK, dan KTSP?

4. Apa perbedaan dan persamaan dari masing-masing karakteristik kurikulum 1994, KBK, dan KTSP?

C. TUJUAN PENULISAN

Adapun yang menjadi tujuan dalam penulisan makalah ini adalah:

1. Untuk mengetahui pengertian dari kurikulum.

2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kurikulum 1994, KBK, dan KTSP.

3. Untuk mengetahui karakteristik dari kurikulum 1994, KBK, dan KTSP.

4. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan karakteristik dari masing kurikulum1994, KBK, dan KTSP.

BAB II

HAKIKAT KURIKULUM

A. PENGERTIAN KURIKULUM

Istilah kurikulum semula berasal dari istilah dari dunia atletik yaitu curere yang berarti berlari. Dari atletik, mengalami pergeseran arti ke dunia pendidikan, misalnya pengertian kurikulum yang tercantum dalam Webster’s International Dictionary:

Curiculum : Course a specified fixed course of study, as in a school or college, as one leading ti a degree.

Kurikulum diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran atau ilmu pengetahuan yang ditempuh atau dikuasai untuk mencapai suatu tingkat tertentu atau ijazah. Beberapa pendapat para ahli tentang kurikulum yaitu:

1. Robert Gagne (1967): kurikulum adalah suatu rangkaian unit materi belajar yang disusun sedemikian rupa sehingga anak didik dapat mempelajarinya berdasarkan kemampuan awal yang dimiliki/dikkuasai sebelumnya.

2. James Popham, dam Eva Baker (1970): kurikulum adalah seluruh hasil belajar yang direncanakan dan merupakan tanggung jawab sekolah.

3. Glatthorn mengartikan kurikulum sebagai rencana yang dibuat untuk membimbing anak belajar di sekolah, disajikan dalam bentuk dokumen yang sudah ditentukan, disusun berdasarkan tingkat-tingkat generalisasi, dapat diaktualisasikan dalam kelas, dapat diamati oleh pihak yang tidak berkepentingan, dan dapat membawa perubahan tingkah laku. (M. Ahmad.Pengembangan Kurikulum).

Secara umum kurikulum adalah suatu rencana tertulis yang berisi tentang ide-ide dan gagasan-gagasan yang dirumuskan oleh pengembang kurikulum termasuk didalamnya kegiatan yang dilakukan siswa dalam proses belajar.

Perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh perubahan global, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta seni dan budaya. Perubahan secara terus menerus ini menuntut perlunya perbaikan sistem pendidikan nasional termasuk penyempurnaan kurikulum untuk mewujudkan masyarakat yang mampu bersaing dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. selengkapnya baca disini http://www.ziddu.com/download/15526052/KURIKULUM94KBKKTSP.docx.html


Minggu, 28 Februari 2010

kado ultah 1/03/10


aku seneng banget dpet kado,, jam....
jamX bukan sembrang jam lo,,, tapi jam khas coca-cola,,,
tw lah aku penggemar coca-cola....
mereka tw aja klo aku suka bgt yang berbau coca-cola....


thansk ya nurul, ami, wimda and indah...,.,!!!! !!!!